Jumat, 18 September 2015
Layaknya Sepasang Sepatu
Layaknya
Sepasang Sepatu
Hai para anak remaja , benar banyak
orang berkata bukankah kita bisa bercermin dari segala hal ? ya tentu saja
bukan , karena dengan bercermin kita akan tau kepribadian diri kita dan dimana
letak sikap keburukan . Seperti layaknya sepasang sepatu bukan hanya sekedar
fashion tetapi sepatu juga bisa menunjukan identitas diri bahkan dapat
menunjukan seperti apa perilaku diri seseorang . Katanya sepatu bisa menuntun
ke jalan yang kita tuju , makanya tidak heran banyak orang yang lebih suka
mengoleksi sepatu dengan berbagai model dan harga dari mulai harga yang
terendah sampai termahal.
Ketika pertama kita membeli sepatu pasti
selalu memilih model dan ukurannya apakah sepatu yang dipilih itu akan cocok dan nyaman setelah kita beli . Begitu pula ketika
memilih pasangang karena masih baru seringkali membuat kesepakatan diawal untuk
selalu bisa melangkah bersama dan merasa nyaman memakai sepatu itu setelah kita
menjalaninya . Disini lah kunci kebesaran hati agar tidak egois dan ikhlas
untuk menerima pasangan saat mengetahui pribadi masing-masing setelah kita
menjalaninya .
Memilih pasngan kadang juga sama
seperti sepatu , ada sepatu yang bagus modelnya ketika dicoba lalu pas dn
nyaman dipakai namun harganya terlalu mahal . artinya ada juga orang yang
berpenampilan dan pribadinya baik namun ternyata terlalu jauh seperti bumi ke
langit dan pada nyatanya lebih banyak orang memilih sepatu yang desainnya unik
dan crntik juga cocok dipakai serta harganya terjangkau , begitu pula dalam
memili pasangan pastinya akal logis akan memilih yang paling match dengan kita . seperti
salah satu lyric lagu :
“ kita adalah sepasang sepatu,
selalu bersama
Tak bisa bersatu, kita mati tak
berjiwa
Bergerak
karena kaki manusia
Aku sang sepatu kanan , kamu sang
sepatu kiri
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita dirak berbeda”
Tentu saja , walaupun bentuknya tak
persis sama tapi terlihat serasi , begitupun kita diciptakan untuk berpasangan
ada yang tinggi,renndah, cantik, tampan tidak persis sama namun orang bisa
menilainya serasi . Sepasang sepatu tidak pernah berganti posisi, namun mereka
tetap saling melengkapi setia pada posisinya tidak mungkin yang sebelah kanan
menjadi sebelah kiri dan sebaliknya, dalam pasangan artinya harus saling
melengkapi kekurangan dan kelebihan. Bila yang satu hilang maka yang lain tidak
memiliki arti, hal ini terjadi dengan pasangan kita bila yang satu hilang
pastinya akan ada perubahan dalam hidup masing-masing.
Seperti sebuah quote yang menarik “
sejarah hidup adalah sejarah sepatu. Sejarah mengenai tempat dimana menusia
pernah berpijak”. Maka untuk semua para anak remaja yang sedang mencari dan menjalin
dengan pasangan kalian lihatlah seperti sepasang sepatu mereka kompak, setia,
dengaan memilih dan menggunakan sepatu tersebut dalam bagian dari hidupnya .
Oke
guys untuk saat ini hanya itu saja yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat
dan terinspirasi dari sepasang sepatu ya . see you ......
Sumber
: - m.kaskus.co.id
-
Source
image from google
Minggu, 23 Agustus 2015
Legenda Ciung Wanara
CIUNG WANARA
Prabu Barma Wijaya Kusuma memerintah kerajaan Galuh yang sangat luas.
Permaisurinya 2 orang. Yang pertama bernama Pohaci Naganingrum dan yang
kedua bernama Dewi Pangrenyep. Keduanya sedang mengandung
Pada bulan ke-9 Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra. Raja sangat bersuka cita dan sang putra diberi nama Hariang Banga.
Hariang Banga telah berusia 3 bulan, namun permaisuri Pohaci Naganingrum belum juga melahirkan. Khawatir kalau-kalau Pohaci melahirkan seorang putra yang nanti dapat merebut kasih sayang raja terhadap Hariang Banga, Dewi Pangrenyep bermaksud hendak mencelakakan putra Pohaci.
Setelah bulan ke-13 Pohaci pun melahirkan. Atas upaya Dewi Pangrenyep tak seorang dayang-dayang pun diperkenankan menolong Pohaci, melainkan Pangrenyep sendiri.
Dengan kelihaian Pangrenyep, putra Pohaci diganti dengan seekor anjing. Dikatakannya bahwa Pohaci telah melahirkan seekor anjing. Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan dihanyutkannya ke sungai Citandui.
Karena aib yang ditimbulkan Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan seekor anjing, raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai istana) untuk membunuh Pohaci. Si Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah raja terhadap Pohaci, permaisuri junjungannya. Pohaci diantarkannya ke desa tempat kelahirannya, namun dilaporkannya telah dibunuh.
Pada bulan ke-9 Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra. Raja sangat bersuka cita dan sang putra diberi nama Hariang Banga.
Hariang Banga telah berusia 3 bulan, namun permaisuri Pohaci Naganingrum belum juga melahirkan. Khawatir kalau-kalau Pohaci melahirkan seorang putra yang nanti dapat merebut kasih sayang raja terhadap Hariang Banga, Dewi Pangrenyep bermaksud hendak mencelakakan putra Pohaci.
Setelah bulan ke-13 Pohaci pun melahirkan. Atas upaya Dewi Pangrenyep tak seorang dayang-dayang pun diperkenankan menolong Pohaci, melainkan Pangrenyep sendiri.
Dengan kelihaian Pangrenyep, putra Pohaci diganti dengan seekor anjing. Dikatakannya bahwa Pohaci telah melahirkan seekor anjing. Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan dihanyutkannya ke sungai Citandui.
Karena aib yang ditimbulkan Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan seekor anjing, raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai istana) untuk membunuh Pohaci. Si Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah raja terhadap Pohaci, permaisuri junjungannya. Pohaci diantarkannya ke desa tempat kelahirannya, namun dilaporkannya telah dibunuh.
Adalah seorang Aki bersama istrinya, Nini Balangantrang, tinggal di desa Geger Sunten tanpa bertetangga. Sudah lama mereka menikah, tetapi belum dikarunia anak. Suatu malam Nini bermimpi kejatuhan bulan purnama. Mimpi itu diceritakannya kepada suami dan sang suami mengetahui takbir mimpi itu, bahwa mereka akan mendapat rezeki. Malam itu juga Aki pergi ke sungai membawa jala untuk menangkap ikan.
Betapa terkejut dan gembira ia mendapatkan kandaga emas yang berisi bayi beserta telur ayam, Mereka asuh bayi itu dengan sabar dan penuh kasih sayang. Telur ayam itu pun mereka tetaskan, mereka memeliharanya hingga menjadi seekor ayam jantan yang ajaib dan perkasa. Anak angkat ini mereka beri nama Ciung Wanara.
Setelah besar bertanyalah Ciung Wanara kepada ayah dan ibu angkatnya. Terus terang Aki dan Nini menceritakan tentang asal-usul Ciung Wanara. Setelah mendengar cerita ayah dan ibu angkatnya, tahulah Ciung Wanara akan dirinya.
Suatu hari Ciung Wanara pamit untuk menyabung ayamnya dengan ayam raja, karena didengarnya raja gemar menyabung ayam. Taruhannya ialah, bila ayam Ciung Wanara kalah ia rela mengorbankan nyawanya. Tetapi bila ayam raja kalah, raja harus bersedia mengangkatnya menjadi putra mahkota. Raja menerima dengan gembira tawaran tersebut.
Sebelum ayam berlaga, ayam Ciung Wanara berkokok dengan anehnya, melukiskan peristiwa benahun-tahun yang lampau tentang permaisuri yang dihukum mati dan kandaga emas yang berisi bayi yang dihanyutkan. Raja tidak menyadari hal itu, tetapi sebaliknya Si Lengser sangat terkesan akan hal itu.Bahkan ia menyadari sekarang Ciung Wanara yang ada di hadapannya adalah putra raja sendiri.
Setelah persabungan, ayam baginda kalah dan ayam Ciung Wanara menang. Raja menepati janji dan Ciung Wanara diangkat menjadi putra mahkota. Dalam pesta pengangkatan putra mahkota, raja membagi 2 kerajaan untuk Ciung Wanara dan Hariang Banga. Selesai pesta pengangkatan putra mahkota Si Lengser bercerita kepada raja tentang hal yang sesungguhnya mengenai permaisuri Pohaci Naganingrum dan Ciung Wanara.
Mendengar cerita ini raja memerintahkan pengawal agar Dewi Pehgrenyep ditangkap. Akibatnya timbul perkelahian antara Hariang Banga dengan Ciung Wanara. Tubuh Hariang Banga dilemparkan ke seberang sungai Cipamali yang sedang banjir besar. Sejak itulah kerajaan Galuh dibagi menjadi 2 bagian dengan batas sungai Cipamali. Di bagian barat diperintah oleh Hariang Banga. Orang-orangnya menyenangi kecapi dan menyenangi pantun. Sedangkan bagian timur diperintah oleh Ciung Wanara. Orang-orangnya menyenangi wayang kulit dan tembang. Kegemaran penduduk akan kesenian tersebut masih jelas dirasakan sampai sekarang.
Sumber : Ciung Wanara
Langganan:
Komentar (Atom)






